Ayo, Jodohmu Menunggu!

Kontak Jodoh

Kamis, 29 Mei 2008

Film Sang Murabbi

SANG MURABBI DAN KAPITALISME INDUSTRI FILM


Sesungguhnya, mereka yang berkata tentang revolusi tetapi tak mampu menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari, telah menyimpan bangkai dalam mulutnya .” (Raoul Vaneigem)


PENGANTAR

Pernyataan Raoul Vaneigem, filsuf kelahiran Lessines, Belgia, 1934, di atas mencoba mengoreksi bahwa gerakan Anti-Globalisasi selama ini telah terpeleset ke dalam upaya memahami fase terkini dari kapitalisme―yang telah bertransformasi menjadi kapitalisme global. Memang, dalam banyak hal kapitalisme tampil dengan wajah baru (contohnya: negara meningkatkan kontrol atas populasinya, sementara negara itu sendiri telah kehilangan kontrol atas kapital dan perdagangan), tetapi kapital selalu mencakup sebuah dorongan untuk berekspansi. Dalam logikanya sendiri, kapitalisme selalu berwujud sebuah motivasi untuk terus-menerus berkembang secara rakus dan ganas. Inilah logika yang lahir sejak logika mendasar kapital, “tumbuh atau mati”, diajarkan di sekolah-sekolah ekonomi-manajemen. Mentalitas dan manifestasi materialnya secara jelas telah dipaparkan sepanjang sejarah.

Untuk menghubungkannya dengan konteks lokal, kita dapat melihat bagaimana bisnis-bisnis lokal juga memiliki sifat dan kecenderungan yang sama. Dalam konteks paling sederhana, kita dapat melihat bagaimana kapitalisme selalu perlu untuk berekspansi dengan cara menyikat dan mencaplok lahan berpotensi bisnis tinggi. Struktur ekonomi yang menopang bisnis tersebut tidak berbeda antara bisnis lokal (yang mulai menasional) seperti Es teler 77 atau Baso Karapitan, dengan korporasi raksasa seperti Salim Group dan Bakrie atau bahkan yang bersifat multinasional seperti Coca Cola dan KFC (yang awalnya juga bermula dari bisnis lokal). Ilustrasi ini menggambarkan bahwa kapitalisme pada dasarnya memiliki karakteristik yang sama. Karenanya, dengan demikian, menjadi jelas bahwa apa yang patut untuk diserang saat kita berkata mengenai kemiskinan, tidak lagi terbatas pada wujud kapital global semata, melainkan lebih pada struktur yang berada di baliknya: sistem ekonomi kapitalisme, sistem yang telah memaksa kita semua untuk terlibat di dalamnya atau mati. Dilihat lagi dalam konteks global, manifestasi terkini dari kapital adalah sebuah reorganisasi kekuasaan yang mulai mengikis kedaulatan negara-bangsa. Dampak ini seringkali menghasilkan sebuah jebakan fatal bagi para aktivis Anti-Globalisasi. Lihatlah apa yang menjadi acuan bagi basis teknologi komunikasi kita, misalnya, dengan melekatnya merk-merk internasional seperti Nokia, Motorolla, Siemen, Bluebarry, Sony-Ericson, HP, atau Microsoft, dalam memori kehidupan modern kita? Kita bisa dengan ekstrem mengatakan bahwa modernitas dan seluruh capaiannya adalah sebuah negeri, sebuah ideologi, dan sebuah kiblat, bernama Barat. Jika kita bertanya, “di mana nasionalisme kita?” dalam konteks ini, apa jawabannya? Sangat sulit!

Inilah jebakan yang seringkali membuat para aktivis Anti-Globalisasi, entah itu para intelektualnya ataupun para organisator akar-rumputnya, tampil dalam perilaku yang ambigu: mereka mempromosikan kedaulatan negara-bangsa untuk melawan globalisasi kapitalisme, tetapi produk domestik mereka justru adalah produk kapitalisme, sehingga perlawanan itu menjadi dagelan. Di sinilah pernyataan Vaneigem di atas menjadi faktual: revolusi yang dikibarkan hanyalah kosmetik yang gampang luntur karena wajah di balik kosmetik itu tak punya idealisme untuk tampil sebagai wajah peradaban. Walhasil, revolusi mereka tak menemukan momentum dalam kesehariannya, karena wajah keseharian mereka telah dipoles oleh produk-produk kaum kapitalis.



GURITA KAPITALISME

Ernst Mandel, filsuf kelahiran Frankfurt, April 1923, menguraikan tiga lompatan fundamental dalam evolusi teknologi mesin di bawah kendali kapital. Pertama, produksi mesin dengan mesin uap tahun 1848; kedua, produksi mesin dengan mesin elektrik dan sistem pembakaran sejak tahun 1890; dan ketiga produksi mesin dengan mesin elektronik dan aparatus tenaga nuklir sejak tahun 1940-an. Periodesasi ini sekaligus menggarisbawahi tiga momen fundamental dalam kapitalisme: kapitalisme pasar, kapitalisme monopoli (imperialisme), dan kapitalisme multinasional. Menurut Mandel, kapitalisme multinasional merepresentasikan kapitalisme yang paling murni dari yang pernah ada karena telah melakukan ekspansi besar-besaran ke wilayah yang sebelumnya tidak dijadikan komoditas, seperti: penetrasi dan kolonisasi terhadap alam, kolonisasi wilayah estetika dan ketidaksadaran (unconciousness), yakni berupa penghancuran sistem pertanian prakapitalis dan kelahiran industri media dan iklan (Madan Sarup, 2003: 323-4). Mengikuti alur tahapan perubahan momen kapitalisme tersebut, kritikus budaya Fredrich Jameson lalu mengajukan sebuah analisis yang menyejajarkan posmodernisme dengan ekspansi komoditas budaya secara besar-besaran dalam tahap kapitalisme multinasional (late capitalism). Ia tampaknya masih mengikuti konsep basis-superstruktur Marx bahwa perubahan struktur ekonomis juga tercermin dalam perubahan kebudayaan meski hubungan ini sangat kompleks.

Bagi Jameson, dalam era kapitalisme multinasional telah terjadi ledakan kebudayaan yang sangat luar biasa di segala aspek kehidupan yang ia sebut sebagai “dominan budaya” (cultural dominant). Di dalam cara mengada dunia seperti ini, konsep modern mengenai pembagian dan otonomi kerja dalam ruang-ruang sosial (ruang ekonomi, budaya, politik) telah runtuh: ruang budaya menjadi ruang ekonomi, sedangkan ruang ekonomi dan politik berubah menjadi bentuk-bentuk kebudayaan. Segala batasan-batasan produksi budaya era sebelumnya (modernisme) diterabas, tidak ada lagi kanonisasi atau institusionalisasi akademis modernis terhadap produk kebudayaan. Dalam pandangan Jameson, dominan budaya dalam era posmodern ini terjadi karena hampir semua “produksi estetis telah terintegrasi menjadi produksi komoditas” (Jameson, 1999: 4).

Kepentingan ekonomi kaum kapitalis memaksa produsen untuk menghasilkan barang-barang yang selalu baru dan mendorong mereka untuk berinovasi dan terus bereksperimentasi menciptakan barang-barang yang baru. Era yang juga disebut posmodernisme ini ditandai oleh komodifikasi besar-besaran di hampir seluruh ruang kehidupan, baik terhadap alam fisik maupun terhadap tubuh manusia sendiri. Dengan kata lain, dominan budaya posmodernisme secara struktural adalah representasi kultural dan ideologis kapitalisme lanjut (late capitalism/multinasional capitalism) dan secara sosial diterima sebagai budaya konsumerisme.



KAPITALISME INDUSTRI FILM

Yang juga dilupakan oleh para aktivis Anti-Globalisasi adalah bahwa pusat kapitalisme mendasarkan dirinya tidak hanya dalam sektor perdagangan atau finansial, melainkan juga dalam pusat-pusat produksinya―sebuah titik di mana sebagian besar dari kita terpaksa mengambil bagian di dalamnya dan mereproduksi perbudakan dan pelecehan atas diri kita sendiri.

Mari kita lihat industri film sebagai salah satu contoh pusat produksi kaum kapitalis yang sangat subur dan strategis.

Film adalah salah satu faktor penting dari ikon budaya pop bersama musik. Kekuatan kedua industri penghasil budaya pop ini telah membius gaya hidup kelompok besar masyarakat. Produk hiburan dan budaya yang keluar dari dua ikon tersebut menjadi kiblat (trendsetter) bagi konsumsi budaya kelompok masyarakat itu.

Hal yang membuat pengaruh kebudayaan pop begitu kuat bagi masyarakat adalah karena ia terbangun dari sejumlah elemen penting, di antaranya adalah globalisasi, komunikasi, informasi, hiburan, dan komersialisme. Kekuatan arus globalisasi telah mengikat berbagai aktivitas kehidupan dunia, dari perekonomian hingga hiburan, ke dalam sebuah ikatan yang saling memengaruhi. Oleh karena itu, terjalinnya komunikasi merupakan prasyarat penting untuk merespons arus globalisasi itu. Dan, budaya pop menyuguhkan komunikasi itu dalam kemasan hiburan dan informasi melalui komersialisasi produknya di tengah arus globalisasi.

Nah, akibat sosial dari arus ini adalah tergerakkannya kebudayaan menjadi salah satu subjek gerakan industrialisasi itu. Sebagai hasil ikutannya, pelaku budaya pop, seperti pegiat film dan penyanyi, menjadi figur baru di tengah konstelasi sosial politik yang terjadi di suatu negara. Kehadiran mereka di dunia budaya pop dengan berbagai gaya hidup yang dibawanya menginspirasi masyarakat untuk memimpikan kehadiran mereka pula dalam kehidupan praktis sebagai model. Kehadiran mereka sebagai patron dalam kehidupan budaya telah membius masyarakat untuk menjadikannya sebagai patron untuk aspek kehidupan yang lain.

Repotnya, umat Islam tak pernah berada dalam posisi tawar yang tinggi, sekalipun secara SDM banyak pegiat film (dari aktor, sutradara, sampai produser) yang beragama Islam. Umat Islam lagi-lagi berada dalam pusaran arus kapitalisme yang nyaris tak bisa dilawan, dengan pilihan yang menghadang: terlibat di dalam arus atau mati. Maka, lihatlah bagaimana arus utama industri film kita dikuasai oleh kaum kapitalisme, yang atas nama uang bisa membuat film apa saja. Merekalah yang menciptakan trend perfilman kita dan membuatnya menjadi beku―yaitu opini penonton yang berpikir bahwa film yang baik adalah film yang diproduksi kaum kapitalis. Jadi, jika mereka memproduksi film seperti ML, XL, BCG, Hantu Jeruk Purut, dll tidaklah mengherankan, karena di tangan merekalah arus utama industri film kita ditentukan. Siapa pula para pemain dan sutradara film-film itu kalau bukan orang Islam, juga menjadi fakta yang sangat memilukan.

Bagaimana menyalahkan penonton sebagai bagian dari memperbaiki posisi tawar umat Islam? Ini bukan jawaban, sebab penonton kita merasa tak punya pilihan. Mana itu film yang bermoral dan berestetika tinggi, jika film yang gencar diproduksi lagi-lagi film berbau seks dan hantu? Di mana berkiprahnya sutradara Muslim, aktor Muslim, produser Muslim, kalau bukan di ladang-ladang industri film berkapital besar milik kaum kapitalis itu?

Industri film memang industri yang padat modal. Di Indonesia, untuk membuat film dengan bahan baku 35 mm, diperlukan biaya kurang lebih Rp3-5 miliar, bahkan ada yg lebih, seperti AAC (Rp10 miliar). Bandingkan dengan industri film Hollywood yang biaya produksinya jutaan, bahkan puluhan juta dollar. Sementara jika film dibuat dengan format Digital Betacam, kemudian dipindahkan ke pita seluloid (kinetransfer), biaya yang dibutuhkan sekitar Rp2,5 miliar.

Menurut seorang produser sebuah rumah produksi besar, bisnis film di Indonesia adalah bisnis yang tidak visibel alias tidak menjanjikan dibandingkan dengan bisnis perbankan atau valas. Modal yang berputar tidak akan kembali dalam hitungan hari atau minggu, tapi berbulan-bulan atau bahkan tahunan. Akhirnya, industri film di Indonesia dikuasai hanya oleh segelintir orang pemilik modal. Merekalah yang dengan sesuka hati membentuk persepsi masyarakat tentang nilai-nilai baik dan benar.



SANG MURABBI, FAKTA TENTANG SEBUAH GERAKAN

Masih ingat dengan gerakan Dadaisme? Dadaisme merupakan aliran pemberontak di antara seniman dan penulis. Kaum Dadaisme ini memiliki semangat menolak frame berpikir bahwa "seni adalah sesuatu yang tinggi, yang mahal, yang serius, complicated, dan eksklusif". Mereka membenci frame berpikir "seni tinggi" karena seni semacam itu adalah milik kaum menengah ke atas yang memiliki estetika semu. Itulah Dadaisme, apapun sah untuk disebut seni!

Dada (yang berarti kuda mainan dari kayu) adalah sebuah gerakan seni yang merupakan reformasi dari dunia seni seperti perang yang menyapu pikiran/ingatan masyarakat. Dadaisme membawa hal-hal baru: ide-ide baru, bahan-bahan baru, tujuan-tujuan baru, dan orang-orang baru. Dada tidak memiliki karakteristik/kesatuan bentuk seperti yang dimiliki oleh gerakan-gerakan lainnya. Dadaisme seringkali diartikan seperti mengeluarkan ide-ide celaan dan kemarahan besar lalu memasukkannya ke dalam seni, jadi ini sangat nyata. Ia tetap apresiasi besar hasil karya manusia.

Dadaisme dikembangkan di Zurich pada tahun 1915 oleh sekumpulan pelukis, seperti Hans Arp dan penyair Rumania, Tristan Tzara, adalah aliran yang dikatakan banyak mempengaruhi seni modern. Tokoh-tokoh Dadaisme antara lain Marcel Duchamp, Raoul Hausmann, Tristan Tzara (1896-1963), Hugo Ball, Salvador Dali (Spain), Max Ernst, Marcel Janco, Man Ray, Hans Richter, Kurt Schwitters, Sophie Tauber, dan Hans Arp.

Jika Hans Arp dan Tristan Tzara berani melakukan pemberontakan terhadap arus utama estetika seni tinggi, dengan tujuan menawarkan seni “rendah”, bisakah gerakan pemberontakan itu dibuat sebaliknya? Jawabnya: sangat bisa!

Secara kasus per kasus, para seniman dunia telah melakukan gerakan itu dengan caranya sendiri-sendiri. John Lennon, misalnya, berani “berkelahi” melawan Amerika dan harus mati di tangan agen CIA (Mark David Chappman) ketika menyerukan pemboikotan terhadap perang AS melawan Vietnam. Lagu-lagu Lennon seperti Imagine, Give Peace a Chance, dan Instant Karma, berbicara tentang perlawanan itu. Film U.S. Versus Lennon juga dapat menjelaskan situasi perlawanan ala Lennon. Novelis David Morrel menciptakan tokoh John Rambo yang mencoba melawan dan membongkar kedok mafia perang AS yang berbisnis di Vietnam.

Perlawanan terhadap kemapanan industri yang dimonopoli oleh kekuatan kapitalis, juga muncul dalam bentuk yang lain, yaitu komunitas underground. Komunitas ini melakukan perlawanan dengan mengkapitalisasi diri sendiri dalam kelompok-kelompok musik yang melempar album berjalur indie label, kelompok filmmaker yang memproduksi film pendek independen, atau kelompok-kelompok IT yang bergerak dengan carding dan deface web. Nah, bagaimana dengan para seniman Muslim, khususnya di Indonesia?

Kita memang dikejutkan oleh munculnya film Ayat-Ayat Cinta yang menorehkan prestasi luar biasa (ditonton oleh sekitar 3 juta orang) dalam sejarah perfilman nasional. Tapi, dalam konteks tulisan ini secara keseluruhan, kita mencoba menggugat: siapa yang memproduksi film itu? Sutradaranya memang Hanung Bramantyo, seorang Muslim dan kader Muhammadiyah, tetapi dalam konteks industri film, Hanung sama posisinya seperti Fedy Nuril, Riyanti Catright, dll: sama-sama pekerja!

Nah, jika film Sang Murabbi diteropong dalam konteks ini, maka kita akan menemukan fakta bahwa film ini merupakan embrio penting dari geliat sebuah gerakan perlawanan terhadap arus deras kapitalisme industri film. Fakta-fakta itu bisa kita runut dari konsep cerita, policymaker, filmmaker, sampai para pemain.

Sang Murabbi sesungguhnya hanya meneruskan sejarah, karena perlawanan terhadap monopoli industri film telah dimulai justru di Amerika, kiblat film dunia. Gerakan film underground diawali oleh sebuah essai Manny Farber, seorang kritikus film Amerika, yang dilansir pada tahun 1957 berjudul Underground Films. Farber menggunakan istilah underground untuk menggambarkan semangat para sutradara yang bekerja dengan ideologi anti-Hollywood.

Para sineas anti-Hollywood sesungguhnya juga bergerak atas nama perlawanan ideologi yang didengung-dengungkan oleh para filsuf abad ke-20 seperti Albert Camus yang mengatakan bahwa karya seni sesungguhnya adalah pemberontakan. Dalam konteks ideologi, pemberontakan itu bergerak dengan misi pembebasan, yaitu memerdekakan seni dari semangat borjuasi yang menjunjung tinggi hedonisme dan mengucilkan diri dari kenyataan sosial masyarakat. Dengan demikian, menurut filsuf George Lucas, ideologi perlawanan itu sangat menjunjung tinggi teori seni berbasis kontemplasi dialektika antara seniman dan lingkungannya sebagai dua kekuatan yang saling mengokohkan.

Dalam konteks inilah Sang Murabbi menegaskan dirinya sebagai sebuah gerakan yang mencoba memecahkan iklim dunia film yang telah terbekukan oleh situasi borjuasi―seperti kita ketahui, borjuasi dunia hiburan, khususnya film, ditandai oleh fungsinya sebagai hiburan, yang atas nama demikian menghalalkan pelanggaran etika dan estetika dengan tujuan tercapainya fungsi menghibur. Sang Murabbi adalah ordinasi dari gerakan revolusi berpikir dan cara mengapresiasi, dengan cara memposisikan film dan penikmatnya tidak berhenti sebagai sekadar produk tontonan dan penonton. Sang Murabbi adalah embrio revolusi produk tontontan dan cara menonton, sehingga berakhirlah era kekuasaan uang, yang dengan atas namanya produsen leluasa memproduksi tontonan dan membentuk cara menonton yang destruktif.

Sinyal akan munculnya publik penonton dengan karakteristik di atas sesungguhnya telah terlihat dalam kasus film AAC. Film ini sukses bukan saja karena menyedot jumlah penonton terbesar, tetapi juga karena menampilkan warna baru dalam industri perfilman di Indonesia. Publik penonton film AAC sangat terlibat secara ideologis dengan tokoh-tokoh dalam film ini karena film ini memaparkan secara lugas idiom-idiom Islam di dalamnya, terlepas dari kontroversi kualitas penceritaan yang jauh dari cerita versi novelnya. Sang Murabbi bahkan menukik lebih tajam dengan publik penonton yang sangat ideologistis, yaitu mereka yang terlibat dalam arus utama gerakan tarbiyah di Indonesia dan para pendukungnya. Apalagi, antusiasme mereka semakin tinggi ketika tahu bahwa Sang Murabbi adalah film alternatif yang diproduksi oleh para pelaku dalam arus utama gerakan tarbiyah itu.

Masalahnya, sebagai sebuah gerakan, Sang Murabbi menghadapi tembok raksasa yang telah bertahun-tahun dibangun oleh kaum kapitalis di belantara industri film. Setidaknya, tembok raksasa itu bisa dijelaskan secara global sebagai berikut:

- Kinetransfer. Memindahkan format Betacam Digital ke Seluloid atau membuat Copy Master yang biasa disebut Copy A, biayanya sebesar $ 30.000 atau Rp. 300.000.000,- dengan kurs Dollar sebesar 10 ribu rupiah. Pekerjaannya pun tidak dapat dilakukan di Indonesia (karena memang belum ada fasilitas untuk itu), melainkan di Bangkok, India atau Australia.

  • Audio Post Dolby Stereo. Untuk dapat dinikmati dengan baik di bioskop biasanya audio dalam film menggunakan sistim Dolby Stereo. Biaya untuk Audio Post ini sekitar 100 juta rupiah.

  • Lisensi untuk dapat menggunakan system Dolby stereo sekitar 2.500 pondsterling, berarti kurang lebih 50 juta rupiah, kalau kita anggap kurs dari poundsterling ke rupiah 20 ribu rupiah.

  • Setelah Master Copy A jadi, maka dibuatlah Copy B sebanyak jumlah layar bioskop yang hendak kita putar. Satu Copy B menelan biaya antara 10 jt s/d 60 jt tergantung kualitas positif filmnya. Kita anggap saja, kita memerlukan 20 Copy B dengan kualitas sedang. Berarti 20 X 20 juta, sama dengan 400 juta rupiah.

  • Total biaya yang diperlukan untuk dapat diputar di 10 bioskop adalah 850 juta rupiah.



Pertanyaannya kemudian adalah: sanggupkah film Sang Murabbi meruntuhkan tembok raksasa ini? Jawabnya: sanggup! Logika yang digunakan oleh Hans Arp dan Tristan Tzara ketika memproklamasikan gerakan Dadaisme dapat dijadikan contoh. Gerakan yang dipandang sebelah mata itu telah melahirkan arus-utama neo-Dadaisme yang berciri nihilistik dan destruktif, yang karena tak ada lagi norma yang bisa diprotes mereka lalu mengembangkan dadaisme menjadi gerakan seni masokisme dan sadisme (Barbara Rose, Seni dan Pemberotnakan, Bentang Budaya 1998). Nah, siapakah para penopang utama gerakan Dadaisme? Mereka adalah seniman dan para penikmatnya, yang membiayai gerakan mereka sehingga dadaisme menjadi gerakan pemberontakan kesenian yang paling fenomenal sepanjang sejarah.

Pertanyaan ini pun dapat dialamatkan kepada film Sang Murabbi; siapakah para penopang utama film Sang Murabbi? Mereka adalah dai-seniman dan “umatnya”. Mereka inilah sesungguhnya para pelaku gerakan yang mampu menumbangkan tembok raksasa di atas sekaligus meruntuhkan dominasi kaum kapitalis dalam industri film kita. Selama umat Islam tak mampu mengkapitalisasi produknya sendiri, selama itu mereka hanya akan berjalan di sebuah titik di mana sebagian besar dari kita terpaksa mengambil bagian di dalam arus yang diciptakan kaum kaptilais dan mereproduksi perbudakan dan pelecehan atas diri kita sendiri. Wallahua'lam bishsawab.

4 komentar:

hafez mengatakan...

Assalammu'alaikum

saya menerima pertanyaan di blog kami tentang dimana bisa mendapatkan vcd sang murobbi. saya bersedia menempatkan iklan vcd/film sang murobbi di tempat teratas dalam urutan blog kami. saya juga bersedia menjadi agen vcd sang murrobi untuk wilayah kalimantan. tolong ditindak lanjuti. wassalammualaikum

bune radya mengatakan...

baru kemarin,tgl 14 Sept, saya melihat film ini secara utuh. Ternyata untuk membuat film "sesederhana" (kalau dibanding made in hollywood) ini butuh perjuangan yang berat ya! tetap semangat,ditunggu karya berikutnya!

Little Caliphs - Tadika Aulad Musleh mengatakan...

Assalamualaikum wrt wbt,

Ana dari Malaysia. Begitu ingin membeli VCD Sang Murabbi. Bagaimana caranya ya?

Allah Ghoyatuna!

nice mengatakan...

Nama domain 'www.murabbi.com" sedang dilelang di www.sedo.com
Penawaran sekarang 70 usd.cepat tawar sebelum org lain yang dapat. Lelang ditutup tgl 6 mei 09 pagi.

Thanks