KH. Rahmat Abdullah, Dari Kuningan Sampai Bekasi
Rahmat Abdullah, yang seringkali dipanggil Bang Mamak oleh warga Kampung Kuningan ini, meskipun lahir dari pasangan asli Betawi, namun ia selalu menghindari sebutan Betawi yang dianggapnya berbau kolonial Belanda. Ia lebih bangga dengan menyebut Jayakarta, karena baginya itulah nama yang diberikan Pangeran Fatahillah kepada tanah kelahirannya. Sebuah sikap yang tak lain lahir dari semangat anti kolonialisme dan imperialisme, serta kebanggaan (izzah) terhadap warisan perjuangan Islam. Pada usia 11 tahun, Rahmat kecil harus menapaki hidupnya tanpa asuhan sang ayah, karena saat itu ia telah menjadi seorang anak yatim. Sang ayah hanya mewariskan pada dirinya usaha percetakan-sablon, yang ia kelola bersama sang kakak dan adik untuk menutupi segala biaya dan beban hidup yang mesti ditanggungnya. Meskipun begitu, Rahmat bukanlah remaja yang cengeng. Walaupun harus ikut membanting tulang mengais rezeki, ia tetap tak mau tertinggal dalam pendidikan. Awal pendidikan resminya ia mulai sejak masuk...

Komentar
Wah, Bang Irwan Renaldi pas juga jadi Ustad Rahmat Abdullah, Sang Murabbi kite! Barokallahu dah, semoga spirit Ustad Rahmat betul-betul merasap dalam jiwa antum dan kita semua. Bravo Sang Murabbi! Ditunggu tanggal edarnya ya. Maklum, udah nggak sabar nih, pengen buru-buru nonton!
Wassalam!
Bang Thoyib, Kemayoran
Hoho..
mirip tenan...
Subhanallah, bang Irwan mak nyess deh!!!. tetap SEMANGAT bang!!!. Ane tunggu filmnye!
Allahuakbar!
Wassalamualaikum...
Bagus Dwi P - Malang